Selasa, 22 Februari 2011

Kegiatan yang pernah dilakukan dalam pembinaan siswa

1. Memberikan pelatihan Pendidikan kecakapan hidup ( life skill) cetak sablon bagi siswa yang memiliki kemampuan ekonomi lemah dan kemungkinan tidak melanjutkan pada siswa SMP Negeri 23 Kota Jambi. Pelatihan ini dilaksanakan selama empat bulan yang terdiri dari 16 pertemuan. Dari pelatihan ini siswa sudah dapat mencetak pada kaos dan mencetak stiker.

2. Membina dan melatih siswa dalam kegiatan ekstra kurikuler bidang olah raga sepak bola di SMPN 23 Kota Jambi. Pada kegiatan ini siswa dibina dan dilatih bagaimana bermain sepak bola. Kegiatan yang dilakukan antara lain adalah bagaimana melakukan passing (mengoper dan menerima bola), dribbling (menggiring bola), dan sutting (tendangan ke gawang). Prestasi yang telah diraih antara lain:
- Juara 3 Walikota Cup tahun 2003
- Juara 2 Walikota Cup tahun 2006

3. Melaksanakan pembinaan dan pelatihan cetak sablon bagi siswa Unggul di SMA Negeri 1 Kota Jambi yang dilaksanakan selama satu semester pada tahun pelajaran 2008/2009. Dari pelatihan ini siswa sudah dapat mencetak pada kaos, mencetak stiker dan membuat spanduk.

4. Membina dan melatih siswa pada kegiatan lomba poster lingkungan hidup tingkat Kota Jambi tahun 2008. Hasil yang diraih siswa yaitu:
- Juara 1 lomba poster lingkungan hidup tahun 2007 tingkat kota Jambi
- Juara 3 lomba poster lingkungan hidup tahun 2007 tingkat kota Jambi

5. Membina dan melatih siswa pada kegiatan lomba poster tingkat Provinsi Jambi tahun 2009 pada FLSSN (Festival Lomba Seni Siswa Nasional). Hasil yang diraih siswa yaitu: Juara 3 lomba poster pada FLSSN (Festival Lomba Seni Siswa Nasional) tingkat Provinsi Jambi tahun 2009.

Selasa, 15 Februari 2011

PRAKARSA GURU DALAM MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN

Prakarsa merupakan kemampuan untuk memulai atau menindaklanjuti rencana atau tugas secara energetik. Prakarsa juga merupakan tindakan awal atau dalam melaksanakan suatu gagasan oleh seseorang atau suatu organisasi. Munculnya prakarsa dapat datang dari luar atau dari dalam diri seorang atau organisasi. Oleh karena itu pakarsa dibedakan dari inovasi, karena inovasi merupakan suatu obyek, gagasan atau benda yang baru bagi mereka yang menggunakannya. Prakarsa diperlukan oleh organisasi termasuk sekolah untuk meningkatkan kinerjanya sehingga dapat berkembang. Di lingkungan sekolah, prakarsa dapat berasal dari kepala sekolah, guru, peserta didik, komite sekolah, orang tua dan pemerintah daerah. Berbagai kebijakan dan konsep pendidikan yang diperkenalkan seperti Cara BelajarAktif(CBSA), Belajar Berbasis Kompetensi, Manajemen Berbasis Sekolah, dan Standar Penyusunan Kurikulum memerlukan prakarsa sekolah untuk dapat diterapkan secara operasional di sekolah dalam meningkatkan mutu pendidkan.
            Untuk meningkatkan mutu pendidikan guru dapat melakukan prakarsa dalam proses pembelajaran. Salah satu prakarsa yang dilakukan oleh guru adalah melaksanakan pengembangan kurikulum. Sehubungan dengan hal ini maka saya sebagai seorang guru mencoba melakukan prakarsa dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran. Bentuk prakarsa yang saya lakukan adalah dengan menyusun kurikulum mata pelajaran muatan lokal khususnya muatan lokal batik daerah Jambi. Pada kurikulum tersebut mencakup latar belakang, tujuan, ruang lingkup, standar kompetensi lulusan mata pelajaran, standar kompetensi, dan   kompetensi dasar mata pelajaran muatan lokal batik Jambi.

KURANGNYA GURU S2 PENYEBAB KEGAGALAN SMAN 1 SEBAGAI SEKOLAH RSBI

Salah satu faktor kegagalan SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 3 Kota Jambi sebagai sekolah sesuai dengan standar RSBI adalah sebagian besar guru RSBI belum memenuhi kriteria kualifikasi pendidikan S2. Padahal sebagaimana yang sudah disyaratkan bahwa komposisi guru RSBI yang berkualifikasi pendidikan  S2 di setiap sekolah RSBI, antara lain 10 persen untuk SD, 20 persen untuk SMP 20 dan 30 persen untuk SMA/SMK. Sementara itu SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 3 Kota Jambi belum memenuhi persyaratan tersebut, hanya sebagian kecil saja guru yang memliki kualifikasi S2.
Untuk memenuhi kriteria tersebut guru dari kedua sekolah tersebut sudah mulai melanjutkan pendidikan kejenjang S2. Namun permasalahan yang timbul disini adalah  para guru yang kuliah tidak sesuai dengan jurusan/program sebagaimana yang dipersyaratkan. Misalnya guru matematika S2-nya harus matematika, guru fisika  S2-nya harus fisika. Sementara itu perguruan tinggi yang ada di Provinsi Jambi terutama Universitas Jambi hanya memiliki Program Pascasarjana Teknologi Pendidikan. Untuk kuliah ke luar daerah terutama ke Pulau jawa menimbulkan permasalahan baru. Permasalahan itu antara lain: sulitnya mendapat izin kuliah, untuk kuliah ke luar daerah guru harus meninggalkan kewajiban pokoknya di sekolah, dan membutuhkan dana yang sangat besar.
Penghasilan guru yang hanya dari gajinya tentu tidak memungkinkan untuk membiayai kuliah S2nya ke luar daerah. Jika kuliahnya Jumat, Sabtu, dan Minggu, maka guru tersebut harus bisa membagi waktunya antara waktu mengajar dan kuliah. Jika demikian guru tersebut harus bolak-balik seminggu sekali ke tempat kuliah dan ke tempatnya mengajar. Hal ini tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit selain biaya transport bolak-balik, biaya penginapan, konsumsi, dan belum lagi biaya untuk kuliah. Sementara itu beasiswa dari pemerintah khusus untuk guru yang mengajar di sekolah RSBI yang melanjutkan pendidikannya ke S2 belum dianggarkan.
Dari uraian yang telah dikemukakan di atas banyak sekali permaslahan yang dihadapi guru guna memenuhi standar yang harus dicapai sebagai sekolah yang berstandar RSBI. Belum lagi masalah pembelajaran di kelas yang mengharuskan menggunakan bahasa Inggris, penggunaan ICT dan masih banyak permasalahan lain. Apakah dengan banyaknya guru dari kedua sekolah yang kuliah ke S2 terutama ke UNJA sudah dapat menyelesaikan masalah, Bagaiman menurut pendapat anda.

Selasa, 08 Februari 2011

PERLUKAH BATIK JAMBI DIJADIKAN SEBAGAI MATA PELAJARAN MUATAN LOKAL?

Kebijakan pemerintah dengan memasukkan mata pelajaran muatan lokal dalam Standar Isi dilandasi oleh suatu kenyataan bahwa di Indonesia memilki keranekaragaman kebudayaan. Oleh sebab itu, program pendidikan di sekolah perlu memberikan wawasan yang luas pada peserta didik tentang kekhususan yang ada di lingkungannya. Standar isi yang seluruhnya disusun secara terpusat tidak mungkin dapat mencakup kekhususan yang ada di lingkungannya itu. Sehingga perlu disusun mata pelajaran yang berbasis pada muatan lokal.
Batik merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia dan dijadikan sebagai mahakarya warisan budaya asli Indonesia sebagaimana yang telah ditetapkan oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009 (Hamidin, AS. 2010:9). Pada tanggal 2 Oktober 2009 itu di Abu Dhabi UNESCO (United National Educational, Scientific, and Cultural Organization) menetapkan batik sebagai salah satu warisan budaya dunia. Batik pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto pada saat mengikuti konferensi PBB menggunakan batik. Oleh sebab itu sebagai warga negara Indonesia, kita harus memelihara dan melestarikan budaya dunia dan asli Indonesia.
Batik juga merupakan salah satu potensi daerah Jambi yang harus dipelihara dan dilestarikan. Pelestarian batik Jambi dapat dilakukan dengan menjadikannya sebagai mata pelajaran muatan lokal dalam pembelajaran di sekolah. Pembelajaran muatan lokal batik di sekolah, diarahkan untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan perilaku kepada peserta didik agar mereka memiliki wawasan yang mantap tentang keadaan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan nilai-nilai/aturan yang berlaku di daerahnya dan mendukung kelangsungan pembangunan daerah serta pembangunan nasional. Secara rinci mata pelajaran Muatan Lokal Batik Jambi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan 1) memahami konsep dan pentingnya batik Jambi melalui kegiatan berkarya, 2) menampilkan sikap apresiasi terhadap batik Jambi, 3) mengembangkan keterampilan siswa untuk menghasilkan produk kerajinan batik Jambi, dan 4) mengembangkan kepekaan kreatif siswa melalui berbagai kegiatan penciptaan kerajinan batik Jambi.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More